DENGAR
Gadis merunduk, merangkai kata pada
lembar kertas tempatnya berpuisi. Duduk menghadap jendela, menampilkan pemandangan
hujan yang turun di halaman. Menghantarkan hawa dingin yang justru membuat
gadis itu semakin larut dalam menulis.
Hujan mulai reda, meninggalkan aroma
unik yang mulai Gadis sukai setelah ia kehilangan pendengaran. Gadis yang dulu menjadikan
suara dan kesejukan hujan sebagai hal favoritnya kini kembali takjub dengan
kuasa Tuhan. Petrikor, nama yang indah untuk sebuah aroma yang mampu
mendamaikan jiwa. Menjadi candu dan akan menumbuhkan kerinduan bila musim panas
menjelang. Meski kehilangan satu indra bukan berarti Gadis menyerah mencintai
hujan. Seperti puisi yang selalu ia tulis, hujan memberikan cinta yang abadi.
***
Ruangan itu dipenuhi anak-anak
yang bermain, berkomunikasi dengan tangan dan sesekali menampilkan ekspresi
wajah. Gadis juga disana, duduk di sekumpulan anak-anak tunarungu yang tinggal
di yayasan milik ibunya. Salah satu anak menghampiri, mengisyaratkan ada
seseorang yang menunggu Gadis diluar.
“Siapa?”
“Raja.” Isyarat anak itu.
“Terima kasih ya.” Gadis
mengusap kepala anak itu, lalu beranjak menemui Raja. Disana, Raja berdiri
memainkan ponselnya. Gadis sedikit berlari menghampiri, membuat kakinya
tersandung dan hampir membuatnya jatuh jika ia tidak segera menyeimbangkan
tubuhnya.
“Hati-hati, Dis! Udah
dibilangin kamu gak usah lari-lari. Tahu kan kalau kamu itu gampang banget
jatuh.” Tegur Raja. Gadis hanya meringis lalu menatap Raja dengan cengiran
diwajahnya.
“Pergi sekarang?” tanya Gadis
begitu sampai di hadapan Raja. Lelaki itu mengangguk kemudian membawa Gadis
pergi dari tempatnya berdiri.
Mereka tiba di salah satu pusat
perbelanjaan. Mengunjungi tempat biasa dimana mereka menghabiskan waktu
bersama. Membeli ice cream, berkeliling sembari bercerita tentang hari
masing-masing. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Raja mengantar
Gadis hingga ke rumahnya. “Terima
Kasih.” Gadis menyampaikannya dengan isyarat yang dibalas Raja dengan senyum
manisnya.
“Bahasa isyarat kamu makin
lancar ya. Kayaknya aku harus ikut belajar juga deh.” Mereka tertawa. Gadis
mengatakan “hati-hati dijalan” dengan isyarat yang lagi-lagi dibalas Raja
dengan senyum. Ia masih berdiri diposisinya, mengantar kepergian Raja sampai
lelaki itu hilang dari pandangan.
Akhir pekan adalah waktu yang
selalu Gadis nantikan. Menghabiskan waktu bersama anak-anak panti, menjadi
relawan di yayasan tunarungu dan bertemu Raja untuk sekedar berbagi cerita.
Gadis masih lah remaja perempuan yang perlahan beranjak dewasa dan menjalani
akhir pekan dengan orang-orang yang ia sayangi adalah satu dari banyak hal baik
yang Tuhan beri untuknya.
“Halo, Ma.”
Minggu ini Gadis kembali
mengunjungi panti. Ia memasang sepatu dengan tergesa-gesa, mengapit ponselnya
diantara telinga dan bahu.
“Iya ini mau ke sana. Bilangin
ke anak-anak kalau aku datang telat.” tambahnya kemudian memutuskan sambungan
telepon. Gadis bergegas, diluar hujan tapi ia tidak ingin membuat anak-anak di
yayasan kecewa.
Gadis memutuskan untuk lari menggunakan
payung hingga halte kemudian menaiki transportasi umum menuju yayasan. Gadis sama
sekali tidak menghiraukan teguran Raja setiap dia berlari sebagaimana yang
lelaki itu tahu bahwa sejak lahir Gadis memiliki pertahanan tubuh yang lemah, ia
mudah sekali tersandung bahkan terjatuh. Saat ini, satu-satunya yang di pikiran
Gadis hanyalah anak-anak panti yang menunggunya.
Gadis masih berlari, menghindar
ketika ada kendaraan di dekatnya dan disaat itulah konsentrasi Gadis pecah.
Gadis tersenggol motor yang melaju, membuatnya terlempar kepinggir jalan dan
kepalanya terbentur cukup keras, sampai ia merasa kesadarannya mulai
menghilang. Beberapa orang datang membantunya, melakukan berbagai hal agar
Gadis bisa sadar. Begitu matanya perlahan terbuka, salah satu diantaranya
menanyakan keadaaan Gadis dan yang lain bantu membereskan barang-barang yang
berserakan.
Kepala Gadis terasa sakit, bahkan
ia merasakan ada yang mengalir di kening dan juga sesuatu yang basah di telinganya.
Mungkin saja berdarah, pikirnya. Tapi justru apa yang terjadi berikutnya membuat
Gadis semakin khawatir.
Pandangannya berputar dan
telinganya pun berdengung. Perlahan suara disekitarnya meredam, seperti orang
itu sedang bicara dalam air. Bahkan suara hujan yang mulai turun juga tidak
terdengar. Semakin memburuk setiap Gadis menggelengkan kepala. Telingannya terus
berdengung sampai akhirnya orang itu tidak lagi bersuara. Tidak ada suara yang
keluar dari mulut orang-orang di sekitarnya. Seperti mereka berbicara tapi
mengeluarkan angin, kosong.
“Ngomong!” Teriak Gadis. Semua
orang terdiam, kaget dan bingung karena Gadis tiba-tiba membentak mereka.
“Ngomong! Jangan diam aja!”
Gadis memukul-mukul telinganya,
disisi kepalanya yang berdarah. Semua orang kembali panik, menanyakan kondisi
Gadis dan berusaha menghentikannya. Gadis sama sekali tidak tahu kenapa orang
di sekelilingnya diam, sama sekali tidak bersuara. Ia semakin panik dan
nafasnya memburu. Seakan oksigen kian menipis.
“Kenapa semuanya diam!”
teriakannya semakin kuat. Gadis sudah mulai menangis, dunia seakan senyap dan
itu membuatnya kesal. “Ngomong! Kenapa semuanya diam!”
***
Gadis meremas jemarinya,
menarik satu persatu seolah-olah ingin memisahkan mereka dari tangan.
Seolah-olah ia tak ingin lagi melihat jemarinya sendiri. Nafasnya memburu,
bahkan air mata sudah mengering di pipi. Ia tahu kalau dibalik pintu kamarnya,
ada dokter yang sedang berbicara dengan Mama.
“Gadis mendapat gangguan
pendengaran sensorineural, Bu. Sel-sel rambut pada telinga dalam yang rusak
membuat Gadis kehilangan kemampuan dengarnya. Umumnya ini terjadi pada lansia
tapi memang ada beberapa kasus yang terjadi akibat benturan ataupun cedera. Buruknya,
benturan di kepala Gadis bukanlah penyebab satu-satunya.
Gadis mengidap otosklerosis atau
pertumbuhan tulang tidak normal pada telinga bagian tengah sehingga suara yang
didengarnya tidak bisa sampai ke otak. Dan sekarang, Gadis tidak bisa mendengar
hingga mungkin Gadis mau melakukan implan atau menggunakan alat bantu dengar.”
Gadis marah, disertai air mata
yang kembali mengalir. Diluar turun hujan, begitu pun dihatinya. Bahkan, untuk
melihat ke jendela pun ia tak mau. Tiba-tiba ia benci hujan, karena taka da lagi
suara hujan yang bisa ia nikmati. Perlahan Gadis merebahkan tubuhnya, menelungkup
di kasur dan membungkus dirinya dengan selimut.
Raja masuk untuk menenangkan
Gadis, berusaha sebisa mungkin agar pujaan hatinya itu berhenti menangis. Diraihnya
tangan yang rapuh itu, menyalurkan ketenangan lewat sentuhan yang diberikan.
“Kamu masih bisa mendengar. Lewat isyarat.” Dengan kaku Raja memperagakan
isyarat yang dia tahu.
Gadis menghindari tatapan Raja
yang membuatnya semakin benci akan takdir Tuhan. “Kamu masih bisa berbicara,
Gadis.” Isyarat Raja.
“Tapi aku gak bisa dengar kamu,
aku gak bisa dengar tangisan mama.” Ucap Gadis lirih. Ia memberi jarak antara
dirinya dan Raja. “Aku gak bisa lagi dengar hujan, Raja!”
Raja memainkan jari dan
tangannya, mengisyaratkan “Kamu pasti bisa.” Kali ini, Raja membiarkan Gadis menangis
memeluk dirinya sendiri. Meninggalkan sosok rapuh itu dan membawa penyesalan
karena tidak bisa menjaga Gadis dengan baik. Kebahagian Gadis adalah hujan. Ia
selalu bercerita tentang suara hujan yang terdengar seperti lagu baginya dan
sekarang hari-hari yang dilalui Gadis akan terasa berat.
Gadis menatap layar ponselnya,
menampilkan sederet pesan dari Raja yang dari tadi hanya ia baca.
Raja : Anak-anak
nunggu kamu
Raja:
Kamu datang, ya
Raja:
Ini udah 2 minggu, Dis. Kamu gak bisa terus-terusan menutup diri.
Raja:
Mereka butuh kamu.
Raja:
Aku tau ini kasar, tapi kamu harus mulai menerima. Kamu masih beruntung.
Hatinya terasa semakin sakit
setiap membaca pesan dari Raja. Anak-anak panti menunggunya, ia tahu itu. Tapi
kini dunianya hampa, sunyi dan senyap. Tak lagi sama. Semuanya diam, seolah enggan
bersuara untuknya. Yang bisa Gadis lakukan hanyalah mengurung diri dikamar dan
membungkus diri dengan selimut. Terlebih saat hujan turun, ia sangat membenci
pemandangan jendela yang menampakkan air
turun. Dan kemudian, Gadis mulai terlelap.
Gadis membuka mata, tatapannya jatuh pada buku
puisi yang selalu ia letak di nakas tempat tidur. Perlahan ia bangkit, menyandarkan
tubuhnya dan membuka lembaran dibuku itu. Tiba-tiba selembar kertas muncul
disalah satu halaman. Fotonya bersama anak-anak yayasan. Gadis membalik foto
itu, yang ternyata ada tulisan berantakan disana. Tampak seperti tulisan
anak-anak.
Hai
kak Gadis. Kakak masih sakit? Kapan kakak sembuh?. Dela kangen main sama kakak.
Kata kak Raja, telinga kakak sakit ya. Kakak jangan sedih dong. Dela juga sakit
loh kayak kakak. Bahkan, Dela udah sakit dari waktu dela lahir. Dela ingat,
waktu kakak cerita gimana indahnya suara hujan. Dela pengen banget bisa kayak
kakak. Bisa punya lagu hujannya sendiri. Tapi Dela tahu, kalau Dela gak akan
bisa dengar suara hujan. Dela gak sedih kok. Dela masih bisa lihat hujan turun,
dan Dela bersyukur. Kasihan Dito, dia gak bisa dengar hujan dan gak bisa lihat
hujan. Oiya, Dito bilang dia juga kangen kak Gadis, kakak kapan main kesini?
Kami semua kangen.
Gadis terpaku, setiap kata yang ia baca membuat
rindunya semakin menggebu. Dia juga rindu Dela, Dito dan anak-anak lainnya. Gadis
menyimpan foto itu di halaman bukunya. Mengambil ponsel dan mengetik sesuatu
untuk Raja.
Gadis:
bilangin ke anak-anak.
Gadis:
aku kesana sekarang.
***

Tidak ada komentar