Breaking News

Hidup Standar Masyarakat


Gambar : Pinterest

Belakangan ini saya sedang menyukai buku karya Crowdstroia, penulis yang saya tahu dari sebuah platform gratis yang menyediakan jutaan bacaan seperti novel dan cerpen. Karya pertamanya yang saya baca adalah Rotasi dan Revolusi, novel yang saya sangat bersyukur memilikinya berkat seorang teman yang berbaik hati membelikan buku itu.

Kenapa saya bisa merasa sangat mensyukuri sebuah buku?

Saya bukan seseorang yang hectic banget mengenai bacaan, untuk manusia yang sudah melewati angka 20 dalam usia hidup, saya masih menyukai novel picisan yang mengangkat kisah romansa pria dan wanita yang mungkin mustahil ada di dunia nyata.

Rotasi dan Revolusi saya temukan dalam platform yang saya sebut tadi, dan isinya sangat menampar saya akan sebuah mindset mengenai kehidupan. Standar Masyarakat. Dua kata itu menjadi inti yang saya pelajari dari novel Rotasi dan Revolusi.

Bagaimana sebuah kehidupan yang dimaknai kebahagiaan bagi semua orang?

Memiliki prestasi semasa sekolah, aktif diberbagai kegiatan, menjabati ketua sebuah komunitas, mendapati pekerjaan dengan upah yang tinggi, mapan diusia matang, memiliki rumah dan mobil hasil jerih payah sendiri, dan menemukan pasangan yang setara dengan strata yang dimiliki. Bayangkan, sangat menyenangkan bukan?

Semua orang ingin hidup dengan rintangan yang hanya sebesar kerikil saja. Tapi jika tidak hati-hati, kerikil kecil juga akan memberikan rasa sakit yang tidak bisa kita duga. Seperti itu pemahaman yang saya dapat dari novel Rotasi dan Revolusi. Dilanjutkan sekarang saya tengah membaca Nona Teh dan Tuan Kopi. Masih mengangkat isu yang sama. Standar Masyarakat.

Akan menjadi hal janggal bila seorang wanita yang mapan, karier yang sukses, jabatan yang tinggi namun belum melepas status lajang diusia yang dibilang sudah amat sangat matang. Bagaimana hal itu akan menjadi sebuah pandangan yang tak lazim di masyarakat, karena seharusnya seorang wanita sudah harus berkeluarga bahkan sebelum memasuki usia 25 tahun. Itulah yang menjadi kisah dari Novel Nona Teh dan Tuan Kopi yang baru saya baca seperempat buku.

Lalu saya berkaca pada kehidupan saya. Tidak terlalu banyak drama memang, hanya beberapa bagian yang saya rasa itu bukan saya.

Orang tua saya juga tergolong orang yang konformitas. Bukan, menjadi konformitas bukanlah hal buruk. Tergantung bagaimana orang yang menjadi sasaran pengaruh sosial itu bisa menerima dan menyikapi. Ayah adalah orang yang berpegang pada nilai dan hasil, tidak terlalu mementingkan proses yang anak-anaknya lalui. Sedangkan Ibu, terkesan cuek dan terlalu ‘no comment’. Hanya saja, menjadi terlalu cuek juga bukan hal baik.

Saya mulai menerima terpaan sosial yang diberikan Ayah sejak duduk dibangku menengah pertama. Ayah tahu saya tergolong anak yang cerdas dan cepat menangkap pelajaran, namun tidak terlalu rajin. Mungkin itu sebabnya beliau menggunakan metode yang mungkin sebagian orang tua juga menerapkan hal itu, memberikan reward ketika kita bisa memperoleh pencapaian yang mereka inginkan.

Namun dewasa ini saya menyadari, ada beberapa hal yang hilang jika menggunakan metode itu. Saya menjadi anak yang sangat antusias, membenci pencapaian orang lain, dan sering memberikan sugesti pesimis kepada orang lain. Begitu seterusnya hingga saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Sesekali saya juga gagal, namun karena Ayah adalah orang yang melihat sesuatu dari nilai, saya terus didorong dengan membandingkan dengan mereka yang melangkahi saya. Hanya ternyata yang tidak saya sadari adalah, saya butuh mental support.

Ternyata menjadi anak yang berhasil dimata Ayah adalah memiliki prestasi akademis, mempunyai hobi yang berkaitan dengan pelajaran, grafik nilai yang tidak pernah turun, dan melakukan kegiatan yang menghasilkan uang. Pengalaman? Ayah tidak terlalu akrab dengan istilah itu.

Disaat sekarang saya sudah menjejaki masa kuliah, Ayah masih dengan pemikiran yang sama. Fokus dengan pelajaran di kampus, dekati dosen yang sekiranya bisa memberikan nilai bagus, kurangi aktifitas yang memakan waktu diluar meskipun Ayah tidak terlalu menyinggung soal bergabungnya saya dengan Radio Kampus, karena seperti yang sudah saya katakan, tak masalah ikut kegiatan yang menghasilkan materi. Ayah akan menyindir begitu saya asyik dengan Novel ataupun buku yang terlihat tidak ada kaitannya dengan pelajaran.

Dan seperti yang sudah saya katakan, menjadi konformitas tidaklah buruk. Mengikuti standar awam masyarakat mengenai keberhasilan seseorang tidaklah hal yang dilarang. Hanya saja, untuk saya selaku orang yang mendapat terpaan sosial seperti itu, saya tidak mendapat mental support yang cukup. Ketika saya gagal, tidak ada kalimat “Gak apa-apa gak berhasil kali ini, segini aja kamu udah hebat” atau “Udah ya, jangan sedih lagi. Kami bangga punya anak sehebat kamu.” Komunikasi memang menjadi juru kunci.

Lalu, kenapa saya tidak membahas Ibu?

Jika dari semua pertanyaan yang mungkin ditujukan kepada saya mengenai keluarga, saya hanya akan menjawab “Saya tidak terlalu akrab dengan keduanya.” Baik Ayah atau Ibu, saya sudah terbiasa untuk menyimpan pemikiran-pemikiran saya, kalau pun rasanya ingin mengutarakan, itu hanya akan sampai di kerongkongan. Saya sayang keluarga, tentu saja. Tapi sepertinya, tanpa disadari ada pembatas yang dibiarkan dengan tidak satu pun yang berusaha meruntuhkannya. Mungkin akan tetap seperti itu hingga saya dengan sadar pergi meninggalkan rumah.

Tidak ada komentar